Bhagawad Gita

Sloka 6.20 – 23

yatroparamate cittam. niruddham yoga-sevaya
yatra caivatmanatmanam. pasyann atmani tusyati
sukham atyantikam yat tad. buddhi-grahyam atindriyam
vetti yatra na caivayam. sthitas calati tattvatah
yam labdhva caparam labham manyate nadhikam tatah
yasmin sthito na duhkhena. gurunapi vicalyate
tam vidyad duhkha-samyoga- viyogam yoga-samjnitam

Pada tingkat kesempurnaan yang disebut semadi atau samadhi, pikiran seseorang terkekang sepenuhnya dari kegiatan pikiran yang bersifat material melalui latihan yoga. Ciri kesempurnaan itu ialah bahwa seseorang sanggup melihat sang diri dengan pikiran yang murni ia menikmati dan riang dalam sang diri. Dalam keadaan riang itu, seseorang berada dalam kebahagiaan rohani yang tidak terhingga, yang diinsafi melalui indria-indria rohani. Setelah menjadi mantap seperti itu, seseorang tidak pernah menyimpang dari kebenaran, dan setelah mencapai kedudukan ini, dia berpikir tidak ada keuntungan yang lebih besar lagi. Kalau ia sudah mantap dalam kedudukan seperti itu, ia tidak pernah tergoyahkan, bahkan di tengah-tengah kesulitan yang paling besar sekalipun. Ini memang kebebasan yang sejati dari segala kesengsaraan yang berasal dari hubungan material.

Sloka 6.24

sa ni cayena yoktavyo. yogo ‘nirvinna-cetasa
sankalpa-prabhavan kamams. tyaktva sarvan asesatah
manasaivendriya-gramam. viniyamya samantatah

Hendaknya seseorang menekuni latihan yoga dengan ketabahan hati dan keyakinan dan jangan disesatkan dari jalan itu. Hendaknya ia meninggalkan segala keinginan meterial yang dilahirkan dari angan-angan tanpa terkecuali, dan dengan demikian mengendalikan segala indria di segala sisi melalui pikiran.

Sloka 6.25

sanaih sanair uparamed. buddhya dhrti-grhitaya
atma-samstham manah krtva. na kincid api cintayet

Berangsur-angsur, selangkah demi selangkah, seseorang harus mantap dalam semadi dengan menggunakan kecerdasan yang diperkokoh oleh keyakinan penuh, dan dengan demikian pikiran harus dipusatkan hanya kepada sang diri dan tidak memikirkan sesuatu selain itu.

Sloka 6.26

yato yato niscalati. manas cancalam asthiram
tatas tato niyamyaitad. atmany eva vasam nayet

Dari manapun pikiran mengembara karena sifatnya yang berkedip-kedip dan tidak mantap, seseorang dengan pasti harus menarik pikirannya dan membawanya kembali di bawah pengendalian sang diri.

Sloka 6.27

prasanta-manasam hy enam yoginam sukham uttamam
upaiti santa-rajasam brahma-bhutam akalmasam

Seorang yogi yang pikirannya sudah dipusatkan pada-Ku pasti mencapai kesempurnaan tertinggi kebahagiaan rohani. Dia berada di atas pengaruh sifat nafsu, dia menginsafi persamaan sifat antara dirinya dan Yang Mahakuasa, dan dengan demikian dia dibebaskan dari segala reaksi perbuatan dari dahulu.

Sloka 6.28

yunjann evam sadatmanam. yogi vigata-kalmasah
sukhena brahma-samsparsam atyantam sukham asnute

Dengan demikian, seorang yogi yang sudah mengendalikan diri dan senantiasa menekuni latihan yoga dibebaskan dari segala pengaruh material dan mencapai tingkat tertinggi kebahagiaan yang sempurna dalam cinta-bhakti rohani kepada Tuhan.

Sloka 6.29

sarva-bhuta-stham atmanam. sarva-bhutani catmani
iksate yoga-yuktatma. sarvatra sama-darsanah

Seorang yogi yang sejati melihat Aku bersemayam di dalam semua makhluk hidup, dan dia juga melihat setiap makhluk hidup di dalam Diri-Ku. Memang, orang yang sudah insaf akan dirinya melihat Aku, Tuhan Yang Maha Esa yang sama di mana-mana.

Sloka 6.30

yo mam pasyati sarvatra. sarvam ca mayi pasyati
tasyaham na pranasyami. sa ca me na pranasyati

Aku tidak pernah hilang bagi orang yang melihat Aku di mana-mana dan melihat segala sesuatu berada di dalam Diri-Ku, dan diapun tidak pernah hilang bagi-Ku.

Sloka 6.31

sarva-bhuta-sthitam yo mam. bhajaty ekatvam asthitah
sarvatha vartamano ‘pi. sa yogi mayi vartate

Seorang yogi seperti itu, yang menekuni pengabdian yang patut dihormati kepada Roh Yang Utama, dengan mengetahui bahwa Aku dan Roh Yang Utama adalah satu, selalu tetap di dalam Diri-Ku dalam segala keadaan.

Sloka 6.32

atmaupamyena sarvatra. samam pasyati yo ‘rjuna
sukham va yadi va duhkham. sa yogi paramo matah

Orang yang melihat persamaan sejati semua makhluk hidup, baik
yang dalam suka maupun dalam dukanya, menurut perbandingan dengan dirinya sendiri, adalah yogi yang sempurna, wahai Arjuna.

Sloka 6.33

arjuna uvaca
yo ‘yam yogas tvaya proktah samyena madhusudana
etasyaham na pasyami. cancalatvat sthitim sthiram

Arjuna berkata: O Madhusudana, sistem yoga yang sudah Anda ringkas kelihatannya kurang praktis dan hamba tidak tahan melaksanakannya, sebab pikiran gelisah dan tidak mantap.

Sloka 6.34

cancalam hi manah Krsna. pramathi balavad drdham
tasyaham nigraham manye. vayor iva su-duskaram

Sebab pikiran gelisah, bergelora, keras dan kuat sekali, O Krsna, dan
hamba pikir menaklukkan pikiran lebih sulit daripada mengendalikan
angin.

Sloka 6.35

sri-bhagavan uvaca
asamsayam maha-baho. mano durnigraham calam
abhyasena tu kaunteya. vairagyena ca grhyate

Sri Krsna bersabda: Wahai putera Kunti yang berlengan perkasa, tentu saja sulit mengendalikan pikiran yang gelisah, tetapi hal ini dimungkinkan dengan latihan yang cocok dan ketidakterikatan.

Sloka 6.36

asamyatatmana yogo. dusprapa iti me matih
vasyatmana tu yatata. sakyo ‘vaptum upayatah

Keinsafan diri adalah pekerjaan yang sulit bagi orang yang pikirannya tidak terkendali. Tetapi orang yang pikirannya terkendali yang berusaha dengan cara yang cocok terjamin akan mencapai sukses. Itulah pendapat-Ku.

Sloka 6.37

arjuna uvaca
ayatih sraddhayopeto. yogac calita-manasah
aprapya yoga-samsiddhim. kam gatim Krsna gacchati

Arjuna berkata: O Krsna, bagaimana nasib seorang rohaniwan yang tidak mencapai sukses, yang mulai mengikuti proses keinsafan diri pada permulaan dengan kepercayaan, tetapi kemudian berhenti karena pikiran yang duniawi dan dengan demikian tidak mencapai kesempurnaan dalam kebatinan?

Sloka 6.38

kaccin nobhaya-vibhrasta chinnabhram iva na yati
apratistho maha-baho. vimudho brahmanah pathi

O Krsna yang berlengan perkasa, bukankah orang seperti itu yang
telah dibingungkan hingga menyimpang dari jalan kerohanian jatuh dari sukses rohani maupun sukses material hingga dirinya musnah, bagaikan awan yang diobrak-abrik, tanpa kedudukan di lingkungan manapun?

Sloka 6.39

etan me samsayam Krsna. chettum arhasy asesatah
tvad-anyah samsayasyasya. chetta na hy upapadyate

Inilah keragu-raguan hamba, O Krsna, dan hamba memohon agar Anda
menghilangkan keragu-raguan ini sepenuhnya. Selain Anda, tiada
seorangpun yang dapat ditemukan untuk membinasakan keragu-raguan ini.

Sloka 6.41
prapya punya-krtam lokan. usitva sasvatih samah sucinam srimatam gehe. yoga-bhrasto ‘bhijayate

Sesudah seorang yogi yang tidak mencapai sukses menikmati selama
bertahun-tahun di planet-planet makhluk yang saleh, ia dilahirkan dalam keluarga orang saleh atau dalam keluarga bangsawan yang kaya.

Sloka 6.42

atha va yoginam eva. kule bhavati dhimatam etad dhi durlabhataram. loke janma yad idrsam

Atau [kalau dia belum mencapai sukses sesudah lama berlatih yoga] dia dilahirkan dalam keluarga rohaniwan yang pasti memiliki kebijaksanaan yang tinggi. Memang, jarang sekali seseorang dilahirkan dalam keadaan seperti itu di dunia ini.

Sloka 6.43

tatra tam buddhi-samyogam. labhate paurva-dehikam
yatate ca tato bhuyah. samsiddhau kuru-nandana

Sesudah dilahirkan seperti itu, sekali lagi dia menghidupkan kesadaran suci dari penjelmaannya yang dahulu, dan dia berusaha maju lebih lanjut untuk mencapai sukses yang lengkap, wahai putera Kuru.

Sloka 6.44

purvabhyasena tenaiva. hriyate hy avaso ‘pi sah jijnasur api yogasya. sabda-brahmativartate

Berkat kesadaran suci dari penjelmaan sebelumnya, dengan sendirinya dia tertarik kepada prinsip-prinsip yoga-kendatipun tanpa diupayakan. Seorang rohaniwan yang ingin menemukan jawaban seperti itu selalu berada di atas prinsip-prinsip ritual dari Kitab Suci.
.
Sloka 6.45

prayatnad yatamanas tu. yogi samsuddha-kilbisah
aneka-janma-samsiddhas. tato yati param gatim

Apabila seorang yogi tekun dengan usaha yang tulus ikhlas untuk
maju lebih lanjut, dengan disucikan dari segala pencemaran, akhirnya ia mencapai kesempurnaan sesudah melatihnya selama banyak penjelmaan, dan ia mencapai tujuan tertinggi.

Sloka 6.46

tapasvibhyo ‘dhiko yogi. jnanibhyo ‘pi mato ‘dhikah
karmibhyas cadhiko yogi. tasmad yogi bhavarjuna

Seorang yogi lebih mulia daripada orang yang bertapa, lebih mulia daripada orang yang mempelajari filsafat berdasarkan percobaan dan lebih mulia daripada orang yang bekerja dengan maksud mendapatkan hasil atau pahala. Karena itu, dalam segala keadaan, jadilah seorang yogi, wahai Arjuna.

Sloka 6.47

yoginam api sarvesam. mad-gatenantar-atmana
sraddhavan bhajate yo mam. sa me yuktatamo matah

Sloka 2.11

sri-bhagavan uvaca
asocyan anvasocas tvam. prajna-vadams ca bhasase
gatasun agatasums ca. nanusocanti panditah

Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda: Sambil berbicara dengan cara yang pandai engkau menyesalkan sesuatu yang tidak patut disesalkan. Orang bijaksana tidak pernah menyesal, baik untuk yang masih hidup maupun untuk yang sudah meninggal.

Sloka 2.12

na tv evaham jatu nasam. na tvam neme janadhipah
na caiva na bhavisyamah. sarve vayam atah param

Pada masa lampau tidak pernah ada suatu saat pun Aku, engkau maupun semua raja ini tidak ada; dan pada masa yang akan datang tidak satupun di antara kita semua akan lenyap.

Sloka 2.13

dehino ‘smin yatha dehe. kaumaram yauvanam jara
tatha dehantara-praptir. dhiras tatra na muhyati

Seperti halnya sang roh terkurung di dalam badan terus menerus mengalami perpindahan, di dalam badan ini, dari masa kanak-kanak sampai masa remaja sampai usia tua, begitu juga sang roh masuk ke dalam badan lain pada waktu meninggal. Orang yang tenang tidak bingung karena penggantian itu.

Sloka 2.14

matra-sparsas tu kaunteya. sitosna-sukha-duhkha-dah
agamapayino ‘nityas. tams titiksasva bharata

Wahai putera Kunti, suka dan duka muncul untuk sementara dan hilang sesudah beberapa waktu, bagaikan mulai dan berakhirnya musim dingin dan musim panas. Hal-hal itu timbul dari penglihatan indria, dan seseorang harus belajar cara mentolerir hal-hal itu tanpa goyah, wahai putera keluarga Bharata.

Sloka 2.15

yam hi na vyathayanty ete. purusam purusarsabha sama-duhkha-sukham dhiram. so ‘mrtatvaya kalpate

Wahai manusia yang paling baik (Arjuna), orang yang tidak goyah karena suka ataupun duka dan mantap dalam kedua keadaan itu pasti memenuhi syarat untuk mencapai pembebasan.

Sloka 2.16

nasato vidyate bhavo. nabhavo vidyate satah ubhayor api drsto ‘ntas. tv anayos tattva-darsibhih

Orang yang melihat kebenaran sudah menarik kesimpulan bahwa apa yang tidak ada [badan jasmani] tidak tahan lama dan yang kekal [sang roh] tidak berubah. Inilah kesimpulan mereka setelah mempelajari sifat kedua-duanya.

Sloka 2.17

avinasi tu tad viddhi. yena sarvam idam tatam vinasam avyayasyasya. na kascit kartum arhati

Hendaknya engkau mengetahui bahwa apa yang ada dalam seluruh badan tidak dapat dimusnahkan. Tidak seorangpun dapat membinasakan sang roh yang tidak dapat dimusnahkan itu.

Sloka 2.18

antavanta ime deha. nityasyoktah saririnah anasino ‘prameyasya. tasmad yudhyasva bharata

Makhluk hidup yang tidak dapat dimusnahkan atau diukur dan bersifat kekal, memiliki badan jasmani yang pasti akan berakhir. Karena itu, bertempurlah, wahai putera keluarga Bharata.

Sloka 2.19

ya enam vetti hantaram. yas cainam manyate hatam ubhau tau na vijanito. nayam hanti na hanyate

Orang yang menganggap bahwa makhluk hidup membunuh ataupun makhluk hidup dibunuh tidak memiliki pengetahuan, sebab sang diri tidak membunuh dan tidak dapat dibunuh.

Sloka 2.20

na jayate mriyate va kadacin
nayam bhutva bhavita va na bhuyah
ajo nityah sasvato ‘yam purano
na hanyate hanyamane sarire

Tidak ada kelahiran maupun kematian bagi sang roh pada saat manapun. Dia tidak diciptakan pada masa lampau, ia tidak diciptakan pada masa sekarang, dan dia tidak akan diciptakan pada masa yang akan datang. Dia tidak dilahirkan, berada untuk selamanya dan bersifat abadi. Dia tidak terbunuh apabila badan dibunuh.

Sloka 2.21

vedavinasinam nityam. ya enam ajam avyayam katham sa purusah partha. kam ghatayati hanti kam

Wahai Partha, bagaimana mungkin orang yang mengetahui bahwa sang roh tidak dapat dimusnahkan, bersifat kekal, tidak dilahirkan dan tidak pernah berubah dapat membunuh seseorang atau menyebabkan seseorang membunuh?

Sloka 2.22

vasamsi jirnani yatha vihaya
navani grhnati naro ‘parani
tatha sarirani vihaya jirnany
anyani samyati navani dehi

Seperti halnya seseorang mengenakan pakaian baru, dan membuka
pakaian lama, begitu pula sang roh menerima badan-badan jasmani yang baru, dengan meninggalkan badan-badan lama yang tidak berguna.

Sloka 2.23

nainam chindanti sastrani. nainam dahati pavakah na cainam kledayanty apo. na sosayati marutah

Sang roh tidak pernah dapat dipotong menjadi bagian-bagian oleh senjata manapun, dibakar oleh api, dibasahi oleh air, atau dikeringkan oleh angin.

Sloka 2.24

acchedyo ‘yam adahyo ‘yam. akledyo ‘ sosya eva ca nityah sarva-gatah sthanur. acalo ‘yam sanatanah

Roh yang individual ini tidak dapat dipatahkan dan tidak dapat dilarutkan, dibakar ataupun dikeringkan. Ia hidup untuk selamanya, berada di mana-mana, tidak dapat diubah, tidak dapat dipindahkan dan tetap sama untuk selamanya.

Sloka 2.25
avyakto ‘yam acintyo ‘yam. avikaryo ‘yam ucyate tasmad evam viditvainam nanusocitum arhasi

Dikatakan bahwa sang roh itu tidak dapat dilihat, tidak dapat dipahami dan tidak dapat diubah. Mengingat kenyataan itu, hendaknya engkau jangan menyesal karena badan.

Sloka 2.27

jatasya hi dhruvo mrtyur. dhruvam janma mrtasya ca tasmad apariharye ‘rthe. na tvam socitum arhasi

Orang yang sudah dilahirkan pasti akan meninggal, dan sesudah kematian, seseorang pasti akan dilahirkan lagi. Karena itu, dalam melaksanakan tugas kewajibanmu yang tidak dapat dihindari, hendaknya engkau jangan menyesal.

Sloka 2.28

avyaktadini bhutani. vyakta-madhyani bharata
avyakta-nidhanany eva. tatra ka paridevana

Semua makhluk yang diciptakan tidak terwujud pada awalnya, terwujud
pada pertengahan, dan sekali lagi tidak terwujud pada waktu
dileburkan. Jadi apa yang perlu disesalkan?

Sloka 2.42 – 43

yam imam puspitam vacam pravadanty avipascitah veda-vada-ratah partha. nanyad astiti vadinah kamatmanah svarga-para. janma-karma-phala-pradam kriya-visesa-bahulam. bhogaisvarya-gatim prati

Orang yang kekurangan pengetahuan sangat terikat pada kata-kata kiasan dari Veda, yang menganjurkan berbagai kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan pahala agar dapat naik tingkat sampai planet-planet surga, kelahiran yang baik sebagai hasilnya, kekuatan, dan sebagainya. Mereka menginginkan kepuasan indria-indria dan kehidupan yang mewah, sehingga mereka mengatakan bahwa tiada sesuatupun yang lebih tinggi dari ini, wahai putera Prtha.

Sloka 2.44

bhogaisvarya-prasaktanam tayapahrta-cetasam vyavasayatmika buddhih. samadhau na vidhiyate

Ketabahan hati yang mantap untuk ber-bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa tidak pernah timbul di dalam pikiran orang yang terlalu terikat pada kenikmatan indria-indria dan kekayaan material.

Sloka 2.45

trai-gunya-visaya veda. nistrai-gunyo bhavarjuna nirdvandvo nitya-sattva-stho. niryoga-ksema atmavan

Veda sebagian besar menyangkut tiga sifat alam. Wahai Arjuna, lampauilah tiga sifat alam itu. Bebaskanlah dirimu dari segala hal yang relatif dan segala kecemasan untuk keuntungan dan keselamatan dan jadilah mantap dalam sang diri.

Sloka 2.46

yavan artha udapane. sarvatah samplutodake
tavan sarvesu vedesu. brahmanasya vijanatah

Segala tujuan yang dipenuhi oleh sumur kecil dapat segera dipenuhi oleh sumber air yang besar. Begitu pula, segala tujuan Veda dapat segera dipenuhi bagi orang yang mengetahui maksud dasar Veda itu.

Sloka 2.47

karmany evadhikaras te. ma phalesu kadacana
ma karma-phala-hetur bhur. ma te sango ‘stv akarmani

Engkau berhak melakukan tugas kewajibanmu yang telah ditetapkan, tetapi engkau tidak berhak atas hasil perbuatan. Jangan menganggap dirimu penyebab hasil kegiatanmu, dan jangan terikat pada kebiasaan tidak melakukan kewajibanmu.

Sloka 2.48

yoga-sthah kuru karmani. sangam tyaktva dhananjaya
siddhy-asiddhyoh samo bhutva samatvam yoga ucyate

Wahai Arjuna, lakukanlah kewajibanmu dengan sikap seimbang, lepaskanlah segala ikatan terhadap sukses maupun kegagalan. Sikap seimbang seperti itu disebut yoga.

Sloka 2.49

durena hy avaram karma. buddhi-yogad dhananjaya
buddhau saranam anviccha. krpanah phala-hetavah

Wahai Dhananjaya, jauhilah segala kegiatan yang menjijikkan melalui bhakti dan dengan kesadaran seperti itu serahkanlah dirimu kepada Tuhan Yang Maha Esa. Orang yang ingin menikmati hasil dari pekerjaannya adalah orang pelit.

Sloka 2.50

buddhi-yukto jahatiha. ubhe sukrta-duskrte tasmad yogaya yujyasva. yogah karmasu kausalam

Orang yang menekuni bhakti membebaskan dirinya dari perbuatan yang baik dan buruk bahkan dalam kehidupan ini pun. Karena itu, berusahalah untuk yoga, ilmu segala pekerjaan.

Sloka 2.60

yatato hy api kaunteya. purusasya vipascitah indriyani pramathini. haranti prasabham manah

Wahai Arjuna, alangkah kuat dan bergeloranya indria-indria sehingga pikiran orang bijaksana yang sedang berusaha untuk mengendalikan indria-indrianya pun dibawa lari dengan paksa oleh indria-indria itu.

Sloka 2.61

tani sarvani samyamya. yukta asita mat-parah vase hi yasyendriyani. tasya prajna pratisthita

Orang yang mengekang dan mengendalikan indria-indria sepenuhnya dan memusatkan kesadarannya sepenuhnya kepada-Ku, dikenal sebagai orang yang mempunyai kecerdasan yang mantap.

Sloka 2.62

dhyayato visayan pumsah. sangas tesupajayate sangat sanjayate kamah. kamat krodho ‘bhijayate

Selama seseorang merenungkan obyek-obyek indria-indria, ikatan terhadap obyek-obyek indria itu berkembang. Dari ikatan seperti itu berkembanglah hawa nafsu, dan dari hawa nafsu timbullah amarah.

Sloka 2.63

krodhad bhavati sammohah sammohat smrti-vibhramah
smrti-bhramsad buddhi-naso. buddhi-nasat pranasyati

Dari amarah timbullah khayalan yang lengkap, dari khayalan menyebabkan ingatan bingung. Bila ingatan bingung, kecerdasan hilang, bila kecerdasan hilang, seseorang jatuh lagi ke dalam lautan material.

Sloka 2.64

raga-dvesa-vimuktais tu. visayan indriyais caran
atma-vasyair vidheyatma. prasadam adhigacchati

Tetapi orang yang sudah bebas dari segala ikatan dan rasa tidak suka serta sanggup mengendalikan indria-indria melalui prinsip-prinsip kebebasan yang teratur dapat memperoleh karunia sepenuhnya dari Tuhan.

Sloka 2.65

prasade sarva-duhkhanam. hanir asyopajayate
prasanna-cetaso hy astu. buddhih paryavatisthate

Tiga jenis kesengsaraan kehidupan material tidak ada lagi pada orang yang puas seperti itu, dengan kesadaran yang puas seperti itu, kecerdasan seseorang mantap dalam waktu singkat.

Sloka 2.66

nasti buddhir ayuktasya. na cayuktasya bhavana na cabhavayatah santir. asantasya kutah sukham

Orang yang tidak mempunyai hubungan dengan Yang Maha Kuasa tidak mungkin memiliki kecerdasan rohani maupun pikiran yang mantap. Tanpa kecerdasan rohani dan pikiran yang mantap tidak mungkin ada kedamaian. Tanpa kedamaian, bagaimana mungkin ada kebahagiaan?

Sloka 2.67

indriyanam hi caratam. yan mano ‘nuvidhiyate tad asya harati prajnam. vayur navam ivambhasi

Seperti perahu yang berada pada permukaan air dibawa lari oleh angin kencang, kecerdasan seseorang dapat dilarikan bahkan oleh satu saja di antara indria-indria yang mengembara dan menjadi titik pusat untuk pikiran.

Sloka 2.68

tasmad yasya maha-baho. nigrhitani sarvasah
indriyanindriyarthebhyas. tasya prajna pratisthita

Karena itu, orang yang indria-indrianya terkekang dari obyek-obyeknya pasti mempunyai kecerdasan yang mantap, wahai yang berlengan perkasa

Sloka 4.3

sa evayam maya te ‘dya. yogah proktah puratanah bhakto ‘si me sakha ceti. rahasyam hy etad uttamam.
Ilmu pengetahuan yang abadi tersebut mengenai hubungan dengan Yang Mahakuasa hari ini Kusampaikan kepadamu, sebab engkau adalah penyembah dan kawan-Ku; karena itulah engkau dapat mengerti rahasia rohani ilmu pengetahuan ini.

Sloka 3.3

sri-bhagavan uvaca
loke ‘smin dvi-vidha nistha. pura prokta mayanagha
jnana-yogena sankhyanam. karma-yogena yoginam.
Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda: O Arjuna yang tidak
berdosa, Aku sudah menjelaskan bahwa ada dua golongan manusia yang berusaha menginsafi sang diri. Beberapa orang berminat
mengerti tentang hal itu melalui angan-angan filsafat berdasarkan
percobaan, sedangkan orang lain berusaha mengerti tentang hal itu
melalui bhakti.
Sloka 3.4
na karmanam anarambhan naiskarmyam puruso ‘snute
na ca sannyasanad eva. siddhim samadhigacchati

Bukan hanya dengan menghindari pekerjaan seseorang dapat mencapai pembebasan dari reaksi, dan bukan hanya dengan melepaskan ikatan saja seseorang dapat mencapai kesempurnaan.

Sloka 3.5

na hi kascit ksanam api. jatu tisthaty akarma-krt karyate hy avas ah karma. sarvah prakrti-jair gunaih.

Semua orang dipaksakan bekerja tanpa berdaya menurut sifat-sifat yang telah diperolehnya dari sifat-sifat alam material; karena itu, tiada seorangpun yang dapat menghindari berbuat sesuatu, bahkan selama sesaatpun.

: Sloka 3.6

karmendriyani samyamya ya aste manasa smaran indriyarthan vimudhatma mithyacarah sa ucyate

Orang yang mengekang indria-indria yang bekerja tetapi pikirannya merenungkan obyek-obyek indria pasti menipu dirinya sendiri dan disebut orang yang berpura-pura.

Sloka 3.7
yas tv indriyani manasa niyamyarabhate ‘rjuna karmendriyaih karma-yogam asaktah sa visisyate

Di pihak lain, kalau orang yang tulus ikhlas berusaha mengendalikan
indria-indria yang giat dengan pikiran dan mulai melakukan karma yoga (dalam kesadaran Krsna) tanpa ikatan, ia jauh lebih maju.

Sloka 3.8
niyatam kuru karma tvam karma jyayo hy akarmanah arira-yatrapi ca te na prasiddhyed akarmanah

Lakukanlah tugas kewajibanmu yang telah ditetapkan, sebab melakukan hal demikian lebih baik daripada tidak bekerja. Seseorang bahkan tidak dapat memelihara badan jasmaninya tanpa bekerja.
.
Sloka 3.9

yajnarthat karmano ‘nyatra. loko ‘yam karma-bandhanah
tad-artham karma kaunteya. mukta-sangah samacara.
Pekerjaan yang dilakukan sebagai korban suci untuk Visnu harus dilakukan. Kalau tidak, pekerjaan mengakibatkan ikatan di dunia material ini. Karena itu, lakukanlah tugas-kewajibanmu yang telah ditetapkan guna memuaskan Beliau, wahai putera Kunti. Dengan cara demikian, engkau akan selalu tetap bebas dari ikatan.

Sloka 3.10

saha-yajnah prajah srstva. purovaca prajapatih
anena prasavisyadhvam. esa vo ‘stv ista-kama-dhuk

Pada awal ciptaan, Penguasa semua makhluk mengirim generasi generasi manusia dan dewa, beserta korban-korban suci untuk Visnu, dan memberkahi mereka dengan bersabda: Berbahagialah engkau dengan yajna [korban suci] ini sebab pelaksanaannya akan menganugerahkan segala sesuatu yang dapat diinginkan untuk hidup secara bahagia dan mencapai pembebasan.

Sloka 3.11

devan bhavayatanena. te deva bhavayantu vah parasparam bhavayantah. reyah param avapsyatha.

Para dewa, sesudah dipuaskan dengan korban-korban suci, juga akan
memuaskan engkau. Dengan demikian, melalui kerja sama antara manusia dengan para dewa, kemakmuran akan berkuasa bagi semua.

Sloka 3.12

istan bhogan hi vo deva. dasyante yajna-bhavitah tair dattan apradayaibhyo. yo bhunkte stena eva sah.
Para dewa mengurus berbagai kebutuhan hidup. Bila para dewa dipuaskan dengan pelaksanaan yajna [korban suci], mereka akan menyediakan segala kebutuhan untukmu. Tetapi orang yang menikmati berkat-berkat itu tanpa mempersembahkannya kepada para dewa sebagai balasan pasti adalah pencuri.

Sloka 3.13

yajna-s istas inah santo. mucyante sarva-kilbisaih
bhunjate te tv agham papa. ye pacanty atma-karanat.
Para penyembah Tuhan dibebaskan dari segala jenis dosa karena mereka makan makanan yang dipersembahkan terlebih dahulu untuk korban suci. Orang lain, yang menyiapkan makanan untuk kenikmatan indria-indria pribadi, sebenarnya hanya makan dosa saja.
Sloka 3.14

annad bhavanti bhutani. parjanyad anna-sambhavah yajnad bhavati parjanyo. yajnah karma-samudbhavah.

Semua badan yang bernyawa hidup dengan cara makan biji-bijian, yang dihasilkan dari hujan. Hujan dihasilkan oleh pelaksanaan yajna [korban suci] dan yajna dilahirkan dari tugas kewajiban yang sudah ditetapkan.

Categories: Spiritual | Tags: | 3 Comments

Post navigation

3 thoughts on “Bhagawad Gita

  1. I have a confident analytical eyesight designed for fine detail and may foresee problems just
    before these people happen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: